Tak Selamanya Indah

Sinar matahari pagi memasuki kamarku, aku menyibak gorden bermotif polkadot berwarna biru tua dengan perlahan. Aku melihat sebuah gaun yang menggantung dengan indah itu menarik perhatian ku sejenak, membelainya halus. Pandanganku beralih ke undangan  pernikahan yang sedari tadi tergeletak diatas nakas samping tempat tidurku.
“Hm.. Sudah waktunya ya.” Gumamku pelan.
.
Tahun-tahun sebelumnya~
.
Agam. Satu dari ratusan laki-laki yang aku sukai di sekolah ini. Senyum manisnya memudarkan semua rasa pahit yang aku telan setiap harinya. Hari-hariku buruk, aku dirumah bersama dengan Mama, ia mengidap penyakit gangguan schizoaffectif yang artinya gangguan pikiran. Aku menceritakan hal ini dengan teman dekatku di kelas, bukan dukungan atau semangat dari mereka, aku malah mendapatkan cacian dan hinaan bahkan mereka menyebarluaskan hal ini. Orang-orang seantero sekolah banyak yang mengejekku sebagai anak orang gila. Aku sudah mulai terbiasa menelan kenyataan pahit ini, bahkan Ayah pergi meninggalkan kami berdua karena tak tahan dengan sikap Mama yang semakin hari semakin aneh kelakuannya dan memilih untuk menikahi wanita lain. Terkadang Ayah juga masih suka memberiku perhatian dan kasih sayang serta membiayaiku sekolah, dan biaya obat Mama. Tapi aku tak bisa bergantung dengan Ayah yang sudah tak disampingku lagi. Dengan keadaan yang seperti ini, aku jadi suka menyendiri di taman belakang sekolah dengan membawa catatan kecil untuk menuliskan apa yang terjadi hari ini.

Sore itu, aku duduk termenung menatap ke arah lapangan sekolah.
“Oksa?” Suara itu, apakah benar dia? Aku menoleh ke belakang, aku menangkap sosok Agam yang dibalut dengan baju basketnya.

“I-iya.” Jawabku gugup.
“Kamu dulu dekat dengan Kayra bukan?” Tanyanya. Jelas aku ingat, ia temanku yang dekat sekali denganku sewaktu masih di SMP.
“Iya benar, apakah kamu juga kenal dengan dia? Aku sangat merindukannya.”
“Aku tak sengaja bertemu dengannya di CoffeeShop beberapa waktu lalu. Akan ku ceritakan sedikit padamu.” Ia duduk di sebelahku.

Agam menceritakan pertemuannya dengan Kayra saat di CoffeeShop yang ternyata  milik kakak Kayra. Tepat ketika Kayra yang menggantikan barista yang waktu itu sedang sakit. Kayra saat ini bersekolah yang dekat dengan rumahku, dan bercerita kalau kedua orang tuanya telah meninggalkannya untuk selamanya akibat mengalami kecelakaan saat akan pindah ke Jakarta. Sekarang ia tinggal bersama dengan kakaknya. Sampai disitu saja cerita dari Agam. Lalu tiba-tiba ia menyodorkan secarik kertas yang berisikan nomor telepon seseorang.

“Sa, ini nomor telepon Kayra. Kamu coba hubungi dia ya, aku mau basket dulu. Bye!” Belum sepat aku membalas perkataannya, ia langsung berlari ke arah lapangan.

Aku menatap kosong kertas itu. Jantungku berdegup kencang, aku bahagia sekaligus takut. Aku takut kalau Kayra sudah melupakanku. Aku merapihkan barangku yang tengah berserakan di atas meja taman belakang sekolah dan langsung beranjak untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku langsung meraih telepon rumah yang tergeletak diatas meja. Dengan rasa hara-harap cemas, aku mengeluarkan secarik kertas yang baru dikasih dari Agam, aku menekan nomor yang tertera dikertas tersebut sembari menempelkan gagang telepon ke telingaku.

~Tuut.. Tuut..

“Ya halo.” Terdengar suara perempuan dari seberang
“Ha-halo. De-dengan Kayra? Aa-ku Oksa, masih ingat?” tanyaku ragu-ragu.
“Iya, ingat sekali! Maaf bila aku pergi tanpa pamit. Kamu apa kabar? Aku rindu.” Sangat jelas sekali bahwa ia juga merindukanku.
“Aku…” aku menggantung kalimatku “Aku baik kok. Kamu? Aku juga rindu, sangat rindu.” Lanjutku.
“Aku tak yakin kamu sedang baik- baik saja, aku kenal kamu sejak lama, Ca. Oh ya, kapan kita akan bertemu?” katanya, ia memang tak bisa ku bohongi
“Hm… Bahkan aku sendiri pun tak tahu apakah aku baik-baik saja atau tidak. Memang kamu tinggal dimana sekarang? Aku ingin cerita.”
“Aku tinggal di jalan XXX, sepertinya dekat dengan rumahmu bukan? Apa kamu sabtu malam luang atau ada janji dengan seseorang? Jika luang, kita bertemu di CoffeeShop ya.” seketika kata-katanya membuatku lebih bersemangat.

Sedang asyik bertelpon, tiba-tiba aku melihat Mama yang berjalan ke arah kamarnya sambil membawa sebuah gunting rumput. Sering sekali Mama seperti ini, bahkan ia sering menyakiti dirinya sendiri dengan silet.

“Ya, sangat dekat. Aku tak ada janji dengan siapapun, Kay. Baiklah, ku tutup teleponnya ya, sampai bertemu di sabtu malam. Bye, Kay.” Aku langsung menutup teleponku, dan langsung menyusul Mama ke kamar untuk memberinya obat antipsikotik. 

Tibalah di hari sabtu, Kayra juga mengajak Agam sebagai tanda terimakasihnya karena telah memberi nomornya kepadaku sehingga aku menghubunginya. Sambil menunggu aku memesan hot cappucino, aku memilih untuk duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Agam datang 15 menit setelah aku duduk, lalu duduk di depanku. Kami berbincang sebentar, membicarakan masalahku. Aku senang karena ia menanggapinya dengan sangat antusias dan senyumnya pun membuatku menjadi agak lebih tenang. Secara tidak langsung aku meneteskan air mataku, ya aku menangis. Agam menyodorkan selembar tisu yang entah dari mana dapatnya. Kayra yang dengan tiba-tiba sudah ada disampingku, tanpa banyak bicara ia langsung memberikan pelukan hangat menengkan. Agam menceritakan kembali semuanya dari awal sampai keadaanku di sekolah kepada Kayra. Aku tak menyangka bahwa merekalah yang menjadi peganganku saat ini, mereka yang membuatku kuat. Setelah selesai membayar, aku pulang ke rumah dengan diantar oleh Agam yang kebetulan ingin mampir ke rumahku.

Sesampainya di rumah, aku mendapati Mama yang sudah terbujur kaku didepan kamarnya dengan pisau ditangannya. Tubuhku lemas. Lidahku kelu. Agam yang dengan sigap memberiku tisu dan menenangkan ku sebisanya. Andai waktu itu aku tak ditolong olehnya saat kecelakaan dua tahun lalu, mungkin Mama tak akan seperti ini, sering berhalusinasi dan bahkan depresi berat. Kini, tak ada waktu untuk bersedih, aku segera menghubungi nomor telepon Papa yang sudah sangat ku hafal untuk menyuruhnya kemari. Aku duduk termangu dihalaman rumah, seketika kenangan bersama Mama saat kecil melintas seenaknya dipikranku. Indah. Hanya itu. Aku tersenyum simpul, air mata yang mengalir ku biarkan begitu saja. Agam menghampiriku, memelukku erat. Kayra datang bersanaan dengan datangnya Papa.

Seusai lulus dari dunia abu-abu, aku melanjutkan studi ku di Bandung. Kebetulan aku, Kayra dan Agam berada disatu kampus yang sama namun beda jurusan. Kami sering sekali menghabiskan waktu akhir pekan dengan berkeliling mengitari alun alun Kota Bandung. Namun, akhir-akhir ini Kayra sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Jadi, malam ini hanya ada aku dan Agam. Aku dengannya berkeliling menaiki vespa miliknya. Ia tiba-tiba memberhentikan vespanya di depan warung nasi, lalu segera turun. Aku membuntutinya.

“Sa, makan yuk! Laper nih.” Ajaknya, sambil menggandeng tanganku
“Ayo, aku juga udah laper.” Sahutku. Kami masing-masing membeli seporsi nasi dan ayam bakar lengkap dengan sambal leuncanya.

Sudah larut malam, aku pulang diantar olehnya. Jujur saja, aku masih merasa canggung bila hanya berdua seperti ini. Rasa suka ku terhadapnya semakin besar, perasaan yang sudah lama ku pendam selama 4 tahun ini sulit untuk diungkapkan. Aku lebih baik seperti ini, menjadi sahabat saja sudah lebih dari cukup.
Hari demi hari telah berganti. Tahun pun ikut berubah angkanya. Namun, perasaan ini masih sama. Entah sudah berapa kali aku mendengar perasaan dari seorang laki-laki terhadapku, tapi hatiku terlalu sulit untuk membukanya. Agam, orang sulit aku lupakan. Dan sampai akhirnya, ia menyatakan perasaannya padaku. “Sa, aku mencintaimu seputih dan sehalus kapas. Apakah kamu juga begitu?” kira-kira seperti itulah yang ia katakan. Tentu aku menerimanya dengan senang hati. Aku bercerita ke Kayra tentang hal ini. Namun, Kayra tampak tak bersemangat mendengarnya. Masam diwajahnya memberi tahu kalau iya cemburu. Aku menyadari bahwa Kayra juga menyukai Agam. Kayra langsung pergi begitu saja.
Tiga bulan telah dilewati, Kayra pun telah membuang jauh perasaan itu. Entah apa yang ku rasa, aku lebih suka berteman seperti dulu. Bukan berarti aku tak sayang, aku hanya tak suka dengan hubungan seperti ini. Aku sudah membicarakan ini dengannya, ia bahkan mengiyakan apa yang ku mau. Aku masih menganggapnya sebagai sahabat, begitupun dengan Kayra.

Sekarang~

 Undangan berwarna silver itu melukiskan namanya dan nama calon istrinya. Agam Daviandra dan tentu bukan namaku pastinya. Aku berjalan menuju kamar mandi, aku berendam di jazzuci dengan santai. Membuang semua kenangan dan harapan yang ada. 
“Bodoh. Menunggunya bertahun-tahun namun ternyata, malah tak pas.” Aku memukul kepalaku sendiri dengan gemas.
 “Oke baiklah, bersikaplah tenang.” Berusaha menenangkan diri sendiri.

Aku telah rapih dengan gaun beserta make up yang telah dipoles olehku. Bercermin sebentar, lalu aku langsung menuju ke tempat acara tersebut.
Aku terlalu bahagia, sampai-sampai acara ijab kabulnya telah dilaksanakan. Bagaimana tidak, aku merasakan kelegaan yang amat menenangkan.  Para tamu undangan bebas untuk menikmati acara dan menikmati berbagai hidangan yang telah disediakan. Aku hanya sendiri. 
“Ocaa…” Suara Kayra dari kejauhan, yang tengah melambaikan tangannya kepadaku yang mengisyaratkan bahwa aku harus ke tempatnya. Aku segera meluncur ke tempat Kayra berada. Aku melihat sosok laki-laki sembari menggendong bayi mungil, itu suami Kayra dan anaknya.
“Ca, kamu sudah salaman?”
“Belum, masih ramai tuh.” sahutku, menunjuk ke tempat pelaminan yang tak begitu ramai.
“Alasan kamu. Yuk, ah.” Ia menarik lenganku kasar dan kami berjalan menuju tempat itu.

Aku melihat dua insan saling mencintai itu duduk di pelaminan dengan wajah gembiranya. Aku juga memberikannya ucapan selamat pada Agam dan berfoto bersama dengan Kayra juga. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tak ku kenal menghampiri ku. Laki-laki itu tampak gagah dengan balutan jas silver ditubuhnya.
“Oksana Nanda?” tanya laki-laki tersebut.
“Ya, siapa ya?” tanyaku dengan bingung.
“Teman kuliahmu dulu, kamu lupa?” mencoba mengingatkanku, namun aku benar-benar tak ingat. Ia mengulurkan tangannya.
“Kenalan lagi yuk, aku Fahri. Boleh minta nomormu?” Ia tersenyum.
“Ya, aku ingat. Tapi untuk apa?” ia menyodorkan ponsel miliknya kepadaku lalu ku ketik nomorku di ponselnya.
“Untuk mengingatkan kamu, supaya kamu tak melupakan.” Ia tersenyum manis yang kali ini mempunyai aura berbeda. Apakah aku sudah benar-benar pindah saat ini?
Ternyata, yang selama ini aku pandang baik tak selamanya pas untukku. Aku tahu,Tuhan seadil itu. Mengajarkan betapa pentingnya melihat di sekelilingku ada manusia yang lebih baik untukku.

Oleh: Ananda Kurniawati


Dalam konteks ilmu budaya dasar, cerpen diatas menunjukan hubungan:
  1. Manusia dan Cinta Kasih
“Sa, aku mencintaimu seputih dan sehalus kapas. Apakah kamu juga begitu?” dan Aku melihat dua insan saling mencintai itu duduk di pelaminan dengan wajah gembiranya.
Terlihat bahwa tokoh Kayra merasakan dan menerima perasaan cinta dari temannya yang bernama Agam.
  1. Manusia dan Tanggungjawab:
    Terletak di paragraf ke 7 pada kalimat pertama, Tibalah di hari sabtu, Kayra juga mengajak Agam sebagai tanda terimakasihnya karena telah memberi nomornya kepadaku sehingga aku menghubunginya.
  2. Manusia dan Penderitaan:
    Terletak di paragraf ke 2 pada kalimat ke 4, Aku menceritakan hal ini dengan teman dekatku di kelas, bukan dukungan atau semangat dari mereka, aku malah mendapatkan cacian dan hinaan bahkan mereka menyebarluaskan hal ini.
  3. Manusia dan Kegelisahan:Terletak di paragraf ke 5 pada kalimat ke 2, Jantungku berdegup kencang, aku bahagia sekaligus takut. Aku takut kalau Kayra sudah melupakanku.
  4. Manusia dan Pandangan Hidup:
    Terletak di paragraf terakhir, Ternyata, yang selama ini aku pandang baik tak selamanya pas untukku. Aku tahu,Tuhan seadil itu. Mengajarkan betapa pentingnya melihat di sekelilingku ada manusia yang lebih baik untukku.
 ........

Komentar

  1. Wat bagus ihhhh😭 iti si agam nya nikah ama sape?

    BalasHapus
  2. Wat bagus ihhhh😭 iti si agam nya nikah ama sape?

    BalasHapus
  3. wow bagus hehehe :D
    Jangan lupa mampir ke blog ku hehe ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer