Manajemen Identitas dalam Dunia Maya
Sebagai makhluk sosial
yang hidup berkelompok, setiap manusia memiliki kebutuhan dan keinginan
bermacam yang setiap darinya memiliki ukuran kebutuhan yang berbeda-beda.
Dimulai dari kebutuhan berekspresi, berkomunikasi, berinteraksi serta berbagai kebutuhan
lain. Seperti halnya kebutuhan untuk diperhatikan/terlihat yang sebenarnya
adalah kebutuhan manusia untuk dianggap ada, keberadaanya. Maka identitas lahir
dengan kepentingan untuk menjadi pemecahan masalah mengenai peran setiap
manusia sebagai makhluk sosial yang nyata.
1.
Cyberspace
Kebutuhan
manusia terus berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi dan ilmu
pengetahuan. Budaya cyber lahir sejak
berkembangnya teknologi dan informatika tentang ruang media baru yaitu cyberspace. Cyberspace merupakan sebuah ruang
imajiner yang bersifat artikisial (substitusi), ruang halusinasi yang tercipta
dari data didalam komputer-komputer yang saling tersambung didalam sebuah
jaringan. Ia adalah sebuah ruang yang seolah-olah nyata walaupun dibangun di
dalam dunia nyata yang maya. Berkaitan dengan aspek sosialnya, istilah cyberspace menurut Timothy Leany adalah
soal “Mengendalikan diri sendiri”.
2. Identitas
Identitas
menurut Stella Ting Toomey merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang
berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi Identitas
pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri kita sendiri dan persepsi orang
lain terhadap diri kita. Sementara itu, Gardiner W. Harry dan Kosmitzki Corinne
melihat identitas sebagai pendefinisian diri seseorang sebagai individu yang
berbeda dalam perilaku, keyakinan dan sikap. Menurut buku Judith S yang
berjudul “Identity and Deception in The
virtual Community” mengatakan “Didalam dunia nyata, konsep identitas
dipahami dengan satu paham bahwa satu tubuh satu identitas. Identitas tersebut
akan terpaku dalam satu tubuh yang akan berkembang dan berubah seiring
berjalanya waktu dan bertambahnya usia.” Yang menarik disini adalah bahwa
didalam cyberspace, setiap dari
individu memiliki kekuasaan atas identitas dalam setiap perwakilan dirinya. Cyberspace, menjadi ruang dimana setiap
dari individu memiliki kebebasan dalam membentuk virtual identity sebagai
perwakilan diri yang bentuk serta karakternya dapat diciptakan sedemikian rupa
yang diinginkan dari setiap individu.
Salah satu hal menarik tentang internet adalah
kesempatan jika menawarkan orang untuk menampilkan diri dalam berbagai cara
yang berbeda. Kamu dapat mengubah gaya menjadi sedikit atau lebih berbeda dari
dunia nyata. Selain gaya, kamu juga dapat mengubah usia, riwayat, kepribadian,
penampilan fisik bahkan jenis kelamin. Username yang kamu gunakan,
aktivitas yang kamu bagikan tentang dirimu, dan informasi yang disajikan bisa
di kelola sesuai dengan keinginanmu di dunia maya. Disini saya akan secara
singkat mengeksplorasi lima faktor yang saling terkait yang berguna dalam
mengelola siapa diri seseorang di dunia maya:
1.
Level of
Dissociation and Integration
Identitas seseorang yang memainkan banyak peran dalam
hidup, seperti sebagai anak, orang tua, pelajar, karyawan, tetangga dan teman.
2.
Positive
and Negative
Komponen berbeda dari siapa yang dapat dikategorikan sebagai
salah satu dari keduanya positif atau negative. Sebagian besar waktu kita akan
mengkritik untuk menyakiti orang lain
dan memuji orang lain dengan akun palsu.
3.
Level of
Fantasy or Reality
Dalam grup di dunia maya mendorong atau bahkan
mengharuskan kita untuk berpura-pura. Kita tidak punya pilihan lain selain
memakai profil picture yang mewakili
kepribadian kita. Misalnya, seorang perempuan menggunakan profil Barbie untuk
menunjukan identitasnya.
4.
Level of
Conscious Awareness and Control
Bagaimana kita memutuskan untuk menghadirkan diri kita
di dunia maya. Kita tidak selalu sadar bagaimana kita memisahkan bagian dari
identitas kita dari dunia maya dengan dunia nyata.
5.
The Media
Chosen
Kami mengekspresikan identitas berbeda dengan identitas yang
sesungguhnya di dunia nyata dalam media yang dipilih.
Daftar Pustaka:
Suler, J. R. (2002). Identity management in cyberspace. Journal of Applied Psychoanalytic.
Chaney, David. 2004. Lifestyles: sebuah pengantar komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.
Hoed, Benny H. 2008. Semiotik & dinamika sosial budaya. Jakarta: Komunitas Bambu.
Komentar
Posting Komentar